Curah Hujan Indonesia







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Curah hujan adalah jumlah curah air hujan yang turun pada suatu daerah dalam waktu tertentu. Sedangkan alat untuk mengukur banyaknya curah hujan adalah Rain Gauge. Curah hujan diukur dalam jumlah harian, bulanan, dan tahunan. Curah hujan yang jatuh ke bumi kadang-kadang sangat deras, deras, sedang, kecil, dan sangat kecil. Curah hujan yang tinggi di suatu daerah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah sudut datangnya matahari, tinggi rendahnya tempat, dan angin maupun arus laut, dll. Di Indonesia curah hujan tidak lepas dari angin muson barat dan angin muson timur, selain itu curah hujan di daerah Indonesia berbeda antara daerah yang satu dan daerah yang lain ini disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi curah hujan juga berbeda. Sehingga makalah ini dibuat untuk  membahas lebih dalam  tentang persebaran curah hujan di Indonesia.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan curah hujan?
2.      Apa saja pola curah hujan di Indonesia?
3.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas curah hujan di berbagai wilayah di Indonesia?
4.      Bagaimana persebaran intensitas curah hujan di Indonesia?
C.     Tujuan
1.      Memahami gambaran umum tentang curah hujan.
2.      Mengetahui pola curah hujan yang ada di Indonesia.
3.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas curah hujan di berbagai wilayah di Indonesia.
4.      Memahami persebaran intensitas curah hujan di Indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Curah Hujan
Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi (mm) di atas permukaan horizontal bila tidak terjadi evaporasi, runoff dan infiltrasi. Satuan Curah Hujan adalah mm, inch. Alat untuk mengukur banyaknya curah hujan yaitu Rain Gauge. Curah hujan (mm) : merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) millimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter. Curah hujan kumulatif (mm) : merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut. Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Daerah Prakiraan Musim (DPM).
B.     Pola Curah Hujan di Indonesia
Pola curah hujan yang ada di Indonesia dibagi menjadi tiga pola bagian curah hujan, antara lain:
1.      Pola Curah Hujan Monsun
2.      Pola Curah Hujan Ekuatorial
3.      Pola Curah Hujan Lokal
Curah hujan di Indonesia dipengaruhi oleh angin muson barat dan angin muson timur. Angin muson barat pada bulan Januari tekanan udara tinggi berada di atas Asia sedangkan tekanan rendah berada di atas Australia, angin ini berhembus di atas Lautan Pasifik banyak membawa uap air dan akhirnya menurunkan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan berlangsung antara bulan Oktober – April (musim hujan )
Angin muson timur berhembus dari arah timur pada bula Juli. Tekanan udara tinggi berada di atas Australia dan tekanan rendah berada di wilayah Asia, angin ini berhembus melalui banyak daratan dan daerah laut yang dilaluinya sedikit sekali sehingga udara yang berhembus tidak terlalu banyak mengandung uap air oleh sebab itu hujannya sedikit dan berhembus pada bulan April – Oktober, dan terjadilah di Indonesia musim kemarau.
Klasifikasi iklim Indonesia sebagai berikut:
1.                  Pola Curah Hujan Monsun
Pola curah hujan monsun dicirikan oleh tipe curah hujan yang bersifat unimodial (satu puncak musim hujan) dimana pada bulan Juni, Juli dan Agustus terjadi musim kering, sedangkan untuk bulan Desember, Januari, dan Februari merupakan bulan basah. Sedangkan enam bulan sisanya merupakan periode peralihan atau pancaroba (tiga bulan peralihan musim kemarau ke musim hujan dan tiga bulan peralihan musim hujan ke musim kemarau). Daerah yang didominasi oleh pola monsun ini berada didaerah Sumatra bagian Selatan, Kalimantan Tengah dan Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian Papua.
2.                  Pola Curah Hujan Ekuatorial
Pola curah hujan ekuatorial dicirikan oleh tipe curah hujan dengan bentuk bimodial (dua puncak hujan) yang biasanya terjadi sekitar bulan Maret dan Oktober atau pada saat terjadi ekinoks. Daerahnya meliputi pulau Sumatra bagian tengah dan Utara serta pulau Kalimantan bagian Utara.
3.                  Pola Curah Hujan Lokal
Pola curah hujan lokal dicirikan oleh bentuk pola hujan unimodial (satu puncak hujan), tetapi bentuknya berlawanan dengan tipe hujan monsun. Daerahnya hanya meliputi daerah Maluku, Sulawesi dan sebagian Papua.
Pola umum curah hujan di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh letak geografis. Secara rinci pola umum curah hujan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai sebelah timur.
2.      Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak adalah Jawa Barat.
3.      Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak umumnya berada pada ketinggian antara 600 - 900 m di atas permukaan laut.
4.      Di daerah pedalaman, di semua pulau, musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar.
5.      Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT (Daerah Konvergensi Antar Tropik).
6.      Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur seperti: 1) Pantai barat pulau Sumatera sampai ke Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November. 2) Lampung-Bangka yang letaknya ke timur mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember. 3) Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada bulan Januari - Februari.
7.      Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda, yaitu bulan Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musim kering. Batas daerah hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120̊ ( Bujur Timur).

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intensitas Curah Hujan di Berbagai Wilayah di Indonesia
Setiap wilayah di Indonesia memiliki intensitas curah hujan yang berbeda. Curah hujan yang jatuh pada setiap wilayah jarang sekali merata. Apalagi pada wilayah yang cukup luas dan bergunung-gunung, maka hujan yang terjadi hampir tidak pernah merata.

Faktor yang mempengaruhi banyak sedikitnya curah hujan di suatu daerah :
1.      Faktor Garis Lintang menyebabkan perbedaan kuantitas curah hujan, semakin rendah garis lintang semakin tinggi potensi curah hujan yang diterima, karena di daerah lintang rendah suhunya lebih besar daripada suhu di daerah lintang tinggi, suhu yang tinggi inilah yang akan menyebabkan penguapan juga tinggi, penguapan inilah yang kemudian akan menjadi hujan dengan melalui kondensasi terlebih dahulu.
2.      Faktor Ketinggian Tempat, Semakin rendah ketinggian tempat potensi curah hujan yang diterima akan lebih banyak, karena pada umumnya semakin rendah suatu daerah suhunya akan semakin tinggi.
3.      Jarak dari sumber air (penguapan), semakin dekat potensi hujanya semakin tinggi.
4.      Arah angin, angin yang melewati sumber penguapan akan membawa uap air, semakin jauh daerah dari sumber air potensi terjadinya hujan semakin sedikit.
5.      Hubungan dengan deretan pegunungan, banyak yang bertanya, “kenapa di daerah pegunungan sering terjadi hujan?” hal itu disebabkan uap air yang dibawa angin menabrak deretan pegunungan, sehingga uap tersebut dibawa keatas sampai ketinggian tertentu akan mengalami kondensasi, ketika uap ini jenuh dia akan jatuh diatas pegunungan sedangkan dibalik pegunungan yang menjadi arah dari angin tadi tidak hujan (daerah bayangan hujan), hujan ini disebut hujan orografik contohnya di Indonesia adalah angin Brubu.
6.      Faktor perbedaan suhu tanah (daratan) dan lautan, semakin tinggi perbedaan suhu antara keduanya potensi penguapanya juga akan semakin tinggi.
7.      Faktor luas daratan, semakin luas daratan potensi terjadinya hujan akan semakin kecil, karena perjalanan uap air juga akan panjang.

D.    Persebaran Intensitas Curah Hujan di Indonesia
Pola curah hujan di Indonesia Secara Astronomis Indonesia terletak diatara 6º Lu dan 11º Ls dan sebagian besar berada di sekitar khatulistiwa dan memiliki curah hujan yang cukup besar terutama di Indonesia bagian barat, dengan rata curah hujannya 2.000 – 3.000.m/tahun dan semakin ke arah timur curah hujannya semakin kecil kecuali Maluku dan Papua.
Curah hujan di Indonesia dipengaruhi oleh angin muson barat dan angin muson timur. Angin muson barat pada bulan Januari tekanan udara tinggi berada di atas Asia sedangkan tekanan rendah berada di atas Australia, angin ini berhembus di atas Lautan Pasifik banyak membawa uap air dan akhirnya menurunkan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan berlangsung antara bulan Oktober – April (musim hujan ).
 Angin muson timur berhembus dari arah timur pada bula Juli. Tekanan udara tinggi berada di atas Australia dan tekanan rendah berada di wilayah Asia, angin ini berhembus melalui banyak daratan dan daerah laut yang dilaluinya sedikit sekali sehingga udara yang berhembus tidak terlalu banyak mengandung uap air oleh sebab itu hujanya sedikit dan berhembus pada bulan April – Oktober, dan terjadilah di Indonesia musim kemarau.
Pada umumnya di suatu tempat suhu tinggi tekanan di atas wilayah itu rendah, dalam rangka memperoleh keseimbangan, udara yang bertekanan tinggi  bergerak ke tekanan lebih rendah. Akibatnya  pantai barat Sumatera dan Aceh sampai Bengkulu memperoleh hujan terbanyak pada bulan  Nopember, sedangkan Lampung pada bulan Desember,
Mulai pantai utara Jawa, Bali, NTB, NTT memperoleh hujan paling banyak pada bulan Januari, sedangkan Sumba, Timor mendapat hujan paling banyak terjadi pada bulan Februari. Karena daerah bertekanan rendah juga bersuhu tinggi, maka gerakan udara dari yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah disertai oleh gerakan udara naik, sebagai akibat persamaan. Gerakan udara naik menyebabkan turunya suhu udara tadi, Menurunya suhu akibat gerakan DKAT, maka sebagian uap yang dikandung akan jatuh sebagai hujan Pada lokasi yang udaranya bergerak ke atas dapat dikatakan angin sangat tenang artinya gerakan secara horizontal kecil. Wilayah tenang di daerah tropis ini disebut daerah Doldrums. Daerahnya adalah terletak antara 10̊ LU dan 10̊ LS.
Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.
Ada beberapa daerah yang mendapat curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang mendapat curah hujan tinggi:
  1. Daerah yang mendapat curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1000 mm, meliputi 0,6% dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu dan Luwuk).
  2. Daerah yang mendapat curah hujan antara 1000 – 2000 mm per tahun di antaranya sebagian Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar.
  3. Daerah yang mendapat curah hujan antara 2000 – 3000 mm per tahun, meliputi Sumatera Timur, Kalimantan Selatan, dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagaian besar Sulawesi.
  4. Daerah yang mendapat curah hujan tertinggi lebih dari 3000 mm per tahun meliputi dataran tinggi di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.
Perlu diketahui bahwa hujan terbanyak di Indonesia terdapat di Baturaden Jawa Tengah, yaitu curah hujan mencapai 7,069 mm/tahun. Hujan paling sedikit di Palu Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang paling kering dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.
Keadaan Iklim
Musim di Sulawesi Tengah dipengaruhi oleh dera musim secara tetap yaitu musim barat yang kering dan musim timur yang banyak membawa uap air. Musim timur terjadi sekitar bulan April sampai dengan September yang ditandai dengan banyak curah hujan, sedangkan musim barat sekitar bulan Oktober sampai Maret yang ditandai dengan kurangnya curah hujan.
Di Sulawesi tengah pada umunya hujan setiap tahun sangat bervariasi, kecuali lembah Palu yang curah hujan sangat kurang itu disebabkan bahwa di Sulawesi Tengah merupakan daerah Rain Shadow (daerah bayang-bayang hujan).
Keadaan Suhu
Suhu udara di Sulawesi Tengah untuk dataran tinggi berkisar antara 22,3° - 23,8° dan di daerah dataran rendah berkisar 31,1° c dengan kelembaban udara rata-rata berkisar antara 72-82 %.
Rata-rata suhu maksimum kota Palu berkisar 32,90° c, sedangkan rata-rata suhu minimum terjadi pada bulan Juni 22,1° c.
Curah Hujan dan Keadaan Angin
Curah hujan di Kota Palu dipengaruhi oleh keadaan geografis dan perputaran/pertemuan arus udara. Rata-rata curah hujan disekitar lembah Palu bervariasi dari 24 - 110 mm, dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan September 110 mm setiap tahunnya.
Antara curah hujan dan keadaan angin biasanya ada hubungannya satu sama lain, namun demikian di beberapa tempat di Sulawesi Tengah hubungan tersebut tidak selalu ada. Keadaan angin pada musim kering biasanya lebih kencang dan angin banyak bertiup dari arah barat laut, oleh karena itu musim tersebut dikenal dengan musim barat.
Pada musim timur banyak turun hujan, angin bertiup agak menurun dibanding keadaan angin pada musim kering. Tiupan angin yang sering terjadi di sekitar lembah palu mempunyai kecepatan maksimum antara 16 - 20 knots, sedangkan kecepatan angin rata-rata pada umunya berkisar antara 5 - 6 knots pada setiap tahunnya.
Sebagai bahan perbandingan curah hujan di daerah lain :
Curah hujan di Eropa sekitar 540 mm/tahun, sedangkan di pedalaman sekitar 1250 mm/tahun, di Pegunungan Rocky 3400 mm/tahun, di pedalaman Amerika 400 mm/tahun. Daerah yang memiliki curah hujan tertinggi di Cherrapunji 10820 mm/tahun ( selama 1860-Juli 1861 memiliki curah hujan 2646,12 mm/tahun dan selama 5 hari berturut-turut dibulan Agustus 1841 sebesar 38000 mm/tahun atau setara dengan curah hujan selama 4 tahun di New York), sedangkan di Puncak Gunung Waialeale di Kanai Tengah, Kepulauan Hawaii sebesar 1175,84 mm/tahun.

RPP SMA KURIKULUM 2013MATA PELAJARAN GEOGRAFI



Berikut adalah RPP SMA kelas XI matapelajaran Geografi. ini adalah RPP hasil PPL yang dilakukan di SMA KEPANJEN 1 MALANG.. semoga dapat membantu.. ^-^



Satuan Pendidikan      : SMA Negeri 1 Kepanjen
Kelas/Semester            : XI-IIS 1 / 1
Mata Pelajaran            : Geografi
Materi Pokok              :  3.3 Kondisi Geografis Indonesia
Sub Materi                  :  3.3.1 Luas dan Batas Teritorial Indonesia
Jumlah Pertemuan       : 1 (satu)
Alokasi Waktu            : 2 x 45’
Tanggal Pelaksanaan   : 06 Oktober 2014

Kompetensi Inti         :
1.      Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.      Mengembangkan perilaku dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.      Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4.      Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.


Kompetensi Dasar     :

1.3  Mensyukuri potensi wilayah Indonesia dalam penyediaan pangan, bahan industri, dan energi elternatif sebagai karunia  Tuhan Yang Maha Pengasih.
2.3  Menunjukkan sikap peduli dan tanggung jawab dalam menghargai potensi geografis Indonesia untuk ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri , dan energi alternatif.
3.3  Menganalisis kondisi geografis indonesia untuk ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri dan energi alternatif.
4.3 Menyajikan data dan fakta kondisi geografis Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri, dan energi alternatif dalam bentuk narasi, tabel, peta, grafik, dan atau peta konsep.

Indikator                    :
1.3.1        Mensyukuri potensi wilayah Indonesia dalam penyediaan pangan, bahan industri dan energi alternatif sebagai karunia Tuhan Yang Maha Pengasih.
2.3.1        Menunjukkan sikap peduli dan tanggung jawab dalam menghargai potensi geografis Indonesia untuk ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri , dan energi alternatif.
3.3.1        Menjelaskan luas dan batas teritorial Indonesia sebagai langkah awal untuk menganalisis kondisi geografis Indonesia.
4.3.1    Menyajikan data dan fakta kondisi geografis Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, penyediaan bahan industri, dan energi alternatif dalam bentuk narasi, tabel, peta, grafik, dan atau peta konsep.
A.  Tujuan Pembelajaran
            1.      Siswa mampu menjelaskan sejarah perkembangan wilayah teritorial dan yuridiksi kedaulatan NKRI.
            2.      Siswa mampu menjelaskan kewenangan negara menetapkan batas negara.
            3.      Siswa mampu menjelaskan luas dan batas teritorial Indonesia.
            4.      Siswa mampu mendiskripsikan luas wilayah Indonesia.
            5.      Siswa mampu menganalisis permasalahan perbatasan di Indonesia.
            6.      Siswa mampu menyajikan data hasil diskusi tentang permasalahan perbatasan di Indonesia.
B.  Metode /  Model Pembelajaran
v  Pendekatan à scientific
v  Metode à tugas mandiri, tanya jawab, ceramah, dan diskusi kelompok/pasangan.
v  Model à Numbered Head Together (NHT)
C.    Materi Pelajaran
            1.      Sejarah perkembangan wilayah teritorial dan yuridiksi kedaulatan NKRI.
            2.      Kewenangan negara menetapkan batas negara.
            3.      Batas teritorial Indonesia.
            4.      luas wilayah Indonesia.
(terlampir)
D.  Kegiatan Pembelajaran
Alokasi waktu : 2 x 45’
Kegiatan
Tahap Scientific Approach
Alokasi Waktu
v Pendahuluan ( 10 menit)
§  Salam
§  Mempersilahkan salah satu siswa memimpin doa
§  Menanyakan kehadiran siswa
Apersepsi        
§  Guru memberikan persepsi awal mengenai luas dan batas teritorial Indonesia, misalnya apakah ada yang sudah mengetahui tentang luas dan batas-batas wilayah Indonesia.
Motivasi
§  Memberikan motivasi pentingnya mempelajari luas dan batas teritorial Indonesia yang disambungkan dari apersepsi
Pemberian Acuan
§  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan aktifitas yang akan dilakukan siswa.


3’



2’




1’


4’

v Inti (73 menit)
§  Siswa memperhatikan power point materi singkat tentang luas dan batas teritorial Indonesia dan sedikit pengantar tentang kondisi geografis Indonesia yang telah disiapkan oleh guru.
§  Siswa mencari informasi yang lebih lengkap lagi, berkenaan dengan materi yang disajikan guru baik melalui buku atau internet.
§  Siswa diminta untuk membuat sejumlah pertanyaan apabila ada yang masih belum dimengerti.
§  Siswa mengamati video tentang masalah perbatasan di Indonesia
§  Siswa dibentuk menjadi 6 kelompok jika jumlah siswa 36. Setiap siswa di dalam kelompok diberikan nomor.
§  Setiap dua kelompok di berikan tema yang berbeda terkait permasalahan perbatasan wilayah di Indonesia, yaitu :
1.      Pendidikan
2.      Ekonomi
3.      Sarana Prasarana
§  masing-masing kelompok mendiskusikan setiap tema permasalahan yang telah diberikan.
§  Setelah selesai diskusi, guru memanggil kelompok dan nomor secara acak untuk melaporkan hasil diskusi kelompok.
§  Guru menunjuk nomor dari kelompok lain untuk memberikan pertanyaan atau sanggahan tentang hasil laporan kelompok lain.
§  Setiap perwakilan kelompok menyalin hasil diskusi dari kelompok lain sehingga setiap kelompok memiliki hasil diskusi dari setiap permasalahan perbatasan.
§  Siswa menjawab pertanyaan dari guru, dikerjakan seperti biasa dalam lembaran kertas kecil.

Mengamati


Menanya

Meng-eksplorasi





Mengasosiasi




Meng-komunikasi-kan

15’


5’


5’

10’



15’


5’


10’


8’
v Penutup (7 menit)
§  Siswa diperkenankan menarik kesimpulan belajar hari ini, bersama-sama dengan guru.
§  Siswa ditugaskan untuk membaca materi selanjutnya yaitu tentang potensi ekonomi dan sosial Indonesia.


Penugasan
Untuk materi selanjutnya

5’



2’

Total Alokasi Waktu

90’

E.     Bahan Alat Media dan Sumber Belajar

Bahan  :
v  slide show power point tujuan pembelajaran dan materi singkat.
v  Video tentang permasalahan perbatasan negara Indonesia.

Alat / Media :
v  Power point
v  Laptop
v  LCD Proyektor
Sumber
v  Buku
§  Buku geografi kelas XI SMA / MA Penerbit dan Percetakan YRAMA WIDYA
§  Bahan ajar Geografi Peminatan Ilmu-ilmu sosial untuk SMA/MA Kelas XI
v  Internet
v  Lingkungan

F.   Penilaian
Teknik Penilaian terhadap siswa dalam pembelajaran meliputi:
1.      Proses pembelajaran NHT  (Afektif)
2.      Tugas kelompok (hasil dan laporan diskusi kelompok tentang permasalahan perbatasan)
3.      Kognitif
Instrumen Penilaian dalam pertemuan ini sebagai berikut:
1.      Lembar pengamatan dan Penilaian (Afektif/Sikap)
catatan: Berikan tanda (√ ) pada siswa yang aktif
No
Nama
Jenis Keaktifan Siswa
Skor
K
P
TJ
KS
Skp
1







2







3







Dst







        Keterangan:
Keterangan:
K : Kerja aktif
P :  Presentor
TJ  : Tanya Jawab
KS : Kerja sama
Skp : Sikap
è 1 tanda (√) bernilai 5 poin dan siswa memiliki skor 25 jika sempurna
è

2.      Lembar Penilaian tugas kelompok à Hasil diskusi kelompok
Kelompok
Kerapian
Kreatifitas
Tepat waktu
SKOR
1




Dst




Keterangan:
Masing-masing kriteria memiliki nilai 5-10. Skor sempurna = 20. Kecuali kolom tepat waktu, jika tepat tambah 5 point, jika tidak 2,5.

3.       Soal
                 1.      Apa pengertian dari wilayah?
                 2.      Apa yang dimaksud dengan batas landas kontinen?
                 3.      Apa perbedaan batas laut teritorial dengan batas zona ekonomi eksklusif?
Kunci Jawaban
Jawaban
Skor dan deskriptor
1.      Wilayah dapat diartikan sebagai ruang dimana manusia yang menjadi warga negara atau penduduk negara yang bersangkutan hidup serta menjalankan segala aktifitasnya
1-3
è Jika tepat skor 3
è Kurang tepat skor 2
2.      Landas kontinen adalah dasar laut yang jika dilihat dari segi geologi maupun geomorfologinya merupakan kelanjutan dari kontinen atau benua. Kedalaman landas kontinen tidak lebih dari 150 meter. Batas landas kontinen diukur mulai dari garis dasar pantai ke arah luar dengan jarak paling jauh adalah 200 mil.
1-4
è Jika tepat skor 4
è Kurang tepat skor 3
è Sangat kurang tepat skor 2
3.      Batas laut teritorial adalah suatu batas laut yang ditarik dari sebuah garis dasar dengan jarak 12 mil ke arah laut Sedangkan batas zona ekonomi eksklusif adalah wilayah laut sejauh 200 mil dari pulau terluar saat air surut.
1-5
è Jika tepat skor 5
è Kurang tepat skor 4
è Sangat kurang tepat skor 3
Nilai Siswa à
Mengetahui,
Guru Pamong,




H. Lukman Huri, S.Pd
NIP. 19650309 198903 1015
Kepanjen, 2014
Guru Praktikan,




Eka Widyanti
NIM. 110721435006



Menyetujui,
Kepala SMA Negeri 1 Kepanjen




Drs. H. Maskuri
NIP. 19580518 198702 1002